Kamis, 30 Agustus 2012

testing

But one day, Hanna mysteriously vanishes and it is only many years later that Michael, now a law student, is astonished to see her again, older and greyer - in the dock. For Hanna was an SS camp guard at Auschwitz, one of half a dozen who committed a particular, atrocious mass murder, described in the bestselling memoir of a Holocaust survivor. Michael is horrified to hear testimony that Hanna liked to pick and choose "favourites" from among the prisoners who were forced to come to her quarters to read to her. It is only now that Michael realises that Hanna is illiterate. As an older man, played by Ralph Fiennes, Michael must come to terms with his feelings of horror at being violated, at having his own capacity for forming relationships stunted, mingled with pity and even tenderness for this vilified creature.
Hanna's condition is by no means a metaphor for the moral illiteracy of nazism. She is shown as being the only honest defendant among the guards on trial; she silences the presiding judge with a heartfelt: "What would you have done?" She only takes the blame for having written a mendacious SS report, and therefore having been the guards' ringleader, because disproving it would mean submitting a handwriting specimen - and Hanna is still ashamed of being illiterate.
The dramatic and emotional structure of the film insidiously invites us to see Hanna's secret misery as a species of victimhood that, if not exactly equivalent to that of her prisoners, is certainly something to be weighed thoughtfully in the balance, and to see a guilt-free human vulnerability behind war crimes. The movie boldly flashes backwards and forwards between Michael's youth and middle age, but there are no flashbacks to the Auschwitz era, so we cannot judge the central facts of Hanna's life and behaviour, and her continuing silence on the subject of antisemitism is never challenged. One sequence shows the older Michael wandering thoughtfully through the deserted but clean and tidy camp with its grim bunks and shower rooms. Were West German law students really allowed to do this? Unaccompanied?
In a final scene, Ralph Fiennes, as the older Michael, comes to New York to visit Ilana Mather, one of Hanna's surviving victims, bearing Hanna's savings in an old tea-can. (Alexandra Maria Lara plays Ilana as a young woman, with whom young Michael had exchanged a friendly grimace of sympathy in court; she is played in middle age by Lena Olin.) This is because Hanna wanted Ilana to have her money, to do with "as she wishes". Surely any sentient human being, no matter how burdened they might feel by a perverse obligation to carry out Hanna's wishes, would see what a grotesque insult that is? Michael's failure to acknowledge it is one of the most agonising, toe-curling aspects of the film.
He explains Hanna's illiteracy to Ilana and the woman asks sharply: "Is that an explanation? Or an excuse?" This highly pertinent question never gets a satisfactory answer from Michael or anyone else. Ilana does not take the money, but incredibly, she does accept the battered old tea-can because it resembles one she lost in the camps - thus legitimising this appalling payment in a far deeper, more emotional sense. The sheer fatuity of this exchange left me gasping.
Kate Winslet thus participates in the Hollywood tradition of having the Nazi played by a Brit; she is very good, and in fact no purely technical objections could conceivably be levelled in any direction. But I can't forgive this film for being so shallow and so obtuse on such a subject, and I can't accept it as a parable for war-guilt-by-association suffered by goodish Germans of the next generation. Under the gloss of high production value, under the sheen of hardback good taste, there is something naive and glib and meretricious. It left a very strange taste in my mouth.

Senin, 03 Oktober 2011

baudolino


Masih ingat Forrest Gump? Baudolino akan mengingatkan anda pada Forrest Gump. Bukan pada keluguan Gump, melainkan pada model cerita yang dipakai Winston Groom untuk menyisipkan tokoh Forrest Gump, yang notabene adalah tokoh fiksi, ke dalam berbagai peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi. Umberto Eco dengan brilian juga merangkai kisah Baudolino dengan cara yang sama. Bedanya, Eco menyisipkan tokoh fiktif Baudolino ke dalam sejarah abad pertengahan, khususnya di sekitar abad ke 12.


“Dalam suatu sejarah, kebenaran kecil-kecil bisa diubah sedemikian rupa sehingga muncul kebenaran yang lebih besar.”



Baudolino adalah putra Gagliaudo yang tinggal di Frascheta, Italia. Dari kecil ia mampu berbicara bahasa asing hanya dengan mendengar beberapa kata dalam suatu bahasa. Namun bakat Baudolino yang paling “hebat” adalah berbohong. Kedua kemampuannya itu berguna saat ia bertemu dengan seorang Jerman bernama Frederick dalam sebuah penyerbuan Jerman ke Terdona. Belakangan terungkap bahwa Frederick ini adalah Frederick “Barbarossa”, sang Raja Jerman pada tahun 1152 yang kelak diangkat menjadi Kaisar Roma oleh Paus pada 1155. Karena kecerdasannya (separuhnya adalah hasil bualan tentu saja!), maka Frederick lalu mengangkat Baudolino menjadi anaknya.

Selanjutnya Baudolino meninggalkan ayahnya dan mengikuti Kaisar Frederick I ini kemana pun ia pergi, sementara Frederick mengajarinya baca-tulis. Saat itu Frederick baru saja mengalahkan Terdona, dan sedang kembali ke Jerman. Itulah awal kisah Baudolino yang lalu ia ceritakan kepada seseorang bernama Niketas.

Dalam sejarah, Niketas Choniates adalah seorang sejarawan Yunani yang pernah menjadi kanselir dari Basileus (Raja) Byzantium. Pertemuan Baudolino dan Niketas terjadi ketika pecah Perang Salib yang ke-4 di Konstantinopel pada tahun 1204 yang meruntuhkan kerajaan Byzantium. Dalam keadaan kritis, Baudolino menyelamatkan Niketas dari pembunuhan oleh para Saracen (istilah yang mengacu pada bangsa Arab). Maka dalam proses menyelamatkan diri dari perang, Baudolino pun menceritakan seluruh kisahnya pada Niketas dari semenjak ia tinggal di istana Frederick I, agar Niketas kelak dapat menulisnya sebagai sejarah.

ilustrasi saat hancurnya Konstantinopel

Lalu kisah petualangan Baudolino pun mengalir mengikuti alur sejarah, di mana Baudolino tampaknya selalu “tak sengaja” hadir dan terseret dalam peristiwa-peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah. Menjadi saksi perebutan Terdona oleh Frederick dan terlibat dalam Perang Salib 2, hanyalah dua di antara banyak petualangan serunya. Lebih unik lagi, Baudolino seolah turut mengubah jalannya sejarah, bukan dengan tindakan heroisme melainkan justru dengan kebohongannya.

Ketika ia dititipkan pada Kardinal Otto von Preising untuk belajar, Baudolino terlibat dalam penyusunan sebuah dokumen kuno. Saat itu Otto sedang melanjutkan menulis chronica sive historia de duabus civitatibus, dokumen yang mengisahkan sejarah dua kota: Yerusalem dan Babel. Malangnya chronica itu tiba-tiba menghilang sehingga Otto harus menulis ulang. Frederich lalu menyuruh Otto memasukkan pujian terhadap Frederich ke chronic yang baru itu, agar Frederich dikenang sepanjang masa, yang akhirnya dikenal sebagai Gesta Friderici Imperatoris (Kebaikan-Kebaikan Kaisar Frederick).

Tanpa diduga, ternyata Baudolino lah biang keladi chronica yang hilang itu. Ia ingin sekali belajar menulis namun tak memiliki perkamen kosong. Maka ia mengambil sembarang perkamen (yang ternyata adalah chronica itu!), mengerik tulisannya sehingga ia punya perkamen kosong untuk ia tulisi. Bayangkan! Perkamen itu kelak dihilangkan Baudolino, karena itulah kini ia harus menceritakan kisahnya pada Niketas berdasarkan ingatannya belaka. Ingatan seorang pembohong yang penuh kebohongan dan tak dapat dipercaya.

Sebelum Otto meninggal, ia mengamanatkan Baudolino untuk mencari seorang raja atau imam yang hingga saat itu tak diketahui keberadaannya, dan hanya dikenal sebagai Prester John atau Presbyter John. Dalam kenyataannya, Presbyter John dipercaya sebagai Yohanes dari Patmos, penulis Kitab Wahyu dalam Alkitab Perjanjian Baru. Sementara ada juga yang mengatakan bahwa Yohanes dari Patmos dan Yohanes sang rasul Yesus adalah satu orang yang sama. Belum diketahui pasti hingga sekarang teori mana yang benar.

Prester John sendiri merupakan legenda yang merujuk pada sebuah kerajaan di daratan Asia (mungkin di India atau Ethiopia), di mana umat Kristiani hidup tanpa cacat sesuai perintah Allah. Ada yang mengatakan Prester John adalah keturunan dari orang Majus (tiga orang asing yang mengikuti bintang Daud sehingga menemukan tempat Yesus lahir di Betlehem). Legenda yang simpang siur ini menjadi sasaran empuk Umberto Eco untuk menempatkan Baudolino.

Sesuai amanat Otto, Baudolino harus menemukan Presbyter John untuk dipertemukan dengan Frederick agar Perang Salib tidak berkelanjutan. Namun karena Baudolino pun tak mampu menemukan Presbyter John, maka sesuai karakternya ia pun mulai "menciptakan" si Presbyter John ini. Ia mulai dengan "merancang" istana yang sesuai untuk Presbyter John, lalu mengarang surat dari Presbyter John untuk Frederick. Bahkan ia “menciptakan” Grasal (Holy Grail) yaitu cawan yang konon dipakai Yesus saat Perjamuan terakhir, yang menjadi legenda namun “dihidupkan” oleh Baudolino. Konyol juga mengikuti petualangan Baudolino ini, dan dengan membaca buku ini anda akan dibuat benar-benar kehilangan arah antara kenyataan dan bualan.

Lewat kisah konyol Baudolino, sebenarnya kita juga diajak untuk belajar sejarah. Lihat saja ketika Baudolino mengisahkan tentang Frederick I pada Niketas, secara tak langsung kita akan mengetahui bagaimana Frederick I yang orang Jerman bisa dinobatkan menjadi Kaisar Roma oleh Paus. Bagaimana proses kelahiran kota Alessandria dan kanonisasi (proses menjadikan seseorang santo) Charlemagne. Selain itu kita juga diajak melihat bagaimana keserakahan dan kesombongan para penguasa abad itu, baik negara maupun gereja. Bagaimana Frederick berusaha menjadi yang paling berkuasa, hingga menghalalkan segala cara. Dari peperangan, pembunuhan, hingga kebohongan.

Pada akhirnya kurasa Umberto Eco ingin mengingatkan kita bahwa di dunia ini segalanya berlaku terbalik. Kebohongan dan hal-hal fana menjadi sesuatu yang dipercayai manusia. Sementara kebenaran yang sesungguhnya justru dianggap absurd. Hal yang sama terjadi pada Baudolino, dalam petualangannya, tiap kali ia menciptakan kebohongan, kebohongan itu akan membawa kesuksesan. Sebaliknya tiap kali mengatakan kebenaran (yang jumlahnya dapat dihitung jari), ia mengalami kesialan, seperti yang ia katakan di hlm 745 buku ini: “Kau lihat sendiri. Pertama kali dalam hidupku aku mengatakan yang benar dan hanya kebenaran, mereka melempariku dengan batu.”

Dan inilah jawaban Niketas kepadanya: “Itu juga terjadi dengan para rasul.” Dan memang itulah tantangan bagi kita yang ingin melakukan kebenaran, kita takkan pernah diterima oleh dunia karena dunia memang lebih suka pada kebohongan.

Baudolino adalah sebuah kisah yang lengkap. Anda akan menemukan sejarah, kekonyolan, mitos dan legenda, sekaligus misteri dalam sebuah buku setebal 750 hlm ini. Sayang penerjemahannya kurang bagus, tapi mungkin itu disebabkan kalimat dan paragraf-paragraf yang terlalu panjang. Di bagian akhir cerita jadi agak membosankan dan tak masuk akal, namun Umberto Eco berhasil menutup kisah ini dengan sesuatu yang bermakna. Tetap saja, dengan semua kekurangan itu, tiga bintang kuberikan untuk Baudolino!

Judul: Baudolino
Penulis: Umberto Eco
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2006
Tebal: 750 hlm